Login Form



Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini40
mod_vvisit_counterKemarin99
mod_vvisit_counterMinggu Ini320
mod_vvisit_counterMinggu Lalu439
mod_vvisit_counterBulan Ini181
mod_vvisit_counterBulan Lalu1812
mod_vvisit_counterTotal16555

Tamu Online : 4
IP Anda: 38.107.191.101
,
Tanggal: Sep 03, 2010
Tamu Online
We have 6 guests online

PostHeaderIcon HIMBAUAN RAMADHAN 1431 H

مجلس العلماء الإندونيسي

   MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOTA BUKITTINGGI

Sekretariat : Kompleks Masjid Nurul Wathan Gulai Bancah Jl. By Pass Bukittinggi Telp/ Fax. (0752) 34923.

Website: www.mui-bukittinggi.org


HIMBAUAN RAMADHAN 1431 H

No: 048/MUI-BKT/2010

 
Dalam rangka menyambut Ramadhan 1431 H Majelis Ulama Indonesia Kota Bukittinggi mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Menempuh Bulan Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin, semoga puasa dan amal ibadah kita diterima Allah SWT dan kita dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang bertaqwa, Amin.

Untuk memuliakan bulan Ramadhan dan mewujudkan kekhusyukan puasa dan amal ibadah dalam bulan yang penuh berkan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bukittinggi menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat di Kota Bukittinggi sebagai berikut:
 
  1. Mari kita sambut bulan Ramadhan yang mulia dan penuh berkah ini dengan senang hati dan suka cita.
  2. Mari kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, sehingga setelah Ramadhan kita akan dapat mewujudkan pribadi dan masyarakat yang berakhlak mulia.
  3. Mari kita hidupkan malam-malam Ramadhan dengan Qiyamullail dan Tilawatil Qur'an dari awal hingga akhir.
  4. Kepada pengurus masjid/surau/mushalla kiranya memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi kaum muslimin untuk melaksanakan berbagai ibadah selama 24 jam, terutama yang ingin melaksanakan i'tikaf, dengan syarat tetap menjaga kehormatan, kebersihan dan adab-adab masjid lainnya.
  5. Kepada pedagang makanan siap saji agar mematuhi PERDA PEKAT, seperti tidak berjualan kecuali untuk persiapan berbuka puasa.
  6. Kepada saudara sesama muslim yang belum terpanggil hatinya untuk melaksanakan puasa dan kepada non muslim kiranya tidak terang-terangan makan, minum, merokok dan lain-lain sebagainya di depan saudara kita yang sedang khidmad melaksanakan puasa, seperti di pasar, di angkot, di jalan dan di tempat-tempat umum lainnya.
  7. Kepada pengusaha hotel, café-café, bioskop dan panti pijat dan yang sejenisnya diminta agar tidak membuka peluang terjadinya perbuatan maksiat, terutama yang bertentangan dengan ajaran agama Islam yang kita junjung tinggi melalui falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basamdi Kitabullah.
  8. Kepada Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi dan penegak hukum kiranya bersikap tegas dan terus menerus (continiu) dalam menjalankan aturan, terutama yang terkait dengan penjagaan kehormatan bulan Ramadhan.
  9. Kepada pemilik rumah kost agar selektif, waspada dan memperketat aturan keluar malam, terutama bagi anak-anak kost yang perempuan.
  10. Kepada kaum remaja agar tidak melakukan asmara tarawih dan asmara subuh, karena akan merusak citra Bulan Ramadhan dan  Remaja Islam.
  11. Kepada pengusaha WARNET agar tidak beroperasi pada malam hari, karena akan mengganggu kekhusyukan beribadah pada bulan suci Ramadhan.
 

Bukittinggi, 03 Agustus 2010 M
                22 Sya'ban 1431 H
 
 
           Ketua Umum                                                        Sekretaris Umum
                     dto                                                                                 dto
 
 
 
 
    DR.ZAINUDDIN TANJUNG, MA                                     DRS. H.KHAMIDIR TK. NAN ELOK
 
 
 
 

PostHeaderIcon MENYIKAPI MASALAH KIBLAT DI KOTA BUKITTINGGI

Fatwa MUI Pusat tentang arah kiblat, nampaknya menimbulkan reaksi dari ahli falak dengan mencoba meneliti keakuratan kiblat secara geografis bagi umat Islam di Indonesia. Pendapat  tentang keakuratan ini membuat umat Islam mengkonfirmasi arah kiblat masjid, mushalla dan tempat-tempat ibadah lainnya dengan menggunakan alat dan teknologi yang dikembangkan atau pengukuran secara manual. Dari hasil pengukuran tersebut ditemukan perbedaan-perbedaan dari arah yang ditunjukkan alat tersebut, di samping itu juga ditemukan arah yang sesuai dengan pengukuran kompas atau alat manual.

Bagi masjid mengalami perbedaan arah pengukuran, baik dengan teknologi maupun manual menimbulkan keresahan bagi masyarakat muslim Indonesia, termasuk masyarakat/jamaah dan pengurus masjid di kota Bukittinggi. Di antara mereka ada yang merasa tidak sah salatnya karena kiblatnya tidak tepat, tetapi ada yang tidak mempermasalahkannya. Dan malah tidak jarang juga yang menimbulkan pro dan kontra dari jamaah dengan sesamanya, begitu juga jamaah dengan pengurus, demikian dikatakan oleh Ketua MUI Kota Bukittinggi Zainuddin Tanjung.

Sehubungan dengan ini banyak pertanyaan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Bukittinggi, baik dari masrakat/jamaah maupun dari pengurus masjid atau mushalla. Untuk menjawab permasalahan ini dilaksanakanlah rapat Bidang/Komisi Fatwa pada tanggal 24 Juli 2010 yang lalu di Kantor MUI Bukittinggi yang dipimpin oleh Ketua Bidang Prof. Dr. A. Rahman Ritonga, MA. Dari hasil rapat tersbut MUI Bukittinggi menyampaikan hal-hal sebagai betikut:

  1. Menghimbauan kepada masyarakat / jamaah dan pengurus masjid atau mushalla agar tidak resah dengan dengan berita / informasi seputar persoalan kiblat akhir-akhir ini.
  2. Bagaimanapun arah kiblat  selama ini, walaupun kemudian terjadi perubahan, tidak mempangeruhi terhadap keabsahan  shalat yang dilaksanakan oleh kaum muslimin.
  3. Perubahan arah kiblat yang tidak signifikan tidak mengaharuskan merubah posisi kiblat dalam sebuah bangunan masjid atau mushalla dan lain-lain.
  4. Persoalan perbedaan pendapat tentang perubahan arah kiblat jangan sampai menimbulkan perpecahan di kalangan umat.
  5. Secara fikih shalat dengan mengarah ke arah ka’bah atau masjidil haram atau ka’bah bagi orang yang jauh dari kota Makkah sudah memadai walau tidak tepat.
  6. Penetapan kiblat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dapat digunakan dalam rangka berusaha semaksimal mungkin mencari arah yang lebih tepat (masih mengandung relatifitas), tanpa membatalkan penetapan secara konvensional atau manual.
  7. Bagi pengurus Masjid, mushalla, surau dan tempat shalat lainnya yang ingin melakukan pengukuran kiblat dengan teknologi modern MUI bersedia mempasilitasinya dengan menghubungi secretariat MUI terlebih dahulu.
Semoga dengan adanya sikap dan himbauan MUI ini diharapkan kepada masyarakat akan semakin khusu' dalam melaksanakan ibadah shalat.
 
Bukittinggi, 24 Juli 2010
DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
KOTA BUKITTINGGI
 
 
             Ketua Umum                                                        Sekretaris Umum
                     dto                                                                                 dto
 
 
 
 
    DR.ZAINUDDIN TANJUNG, MA                                     DRS. H.KHAMIDIR TK. NAN ELOK
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

PostHeaderIcon Berita Terakhir

PostHeaderIcon Populer

Tanggal

Konsultasi Online
We are offline